Rabu, 25 Juni 2008

Takdir

Nama anak itu Takdir. Matanya nampak sayu, terlukis kemuraman di wajah lugunya. Kemeja putih yang kusut dan celana panjang hitam yang lusuh membungkus tubuhnya yang ceking tak terurus. Sebuah tas kumal digantung di punggungnya. Usianya kira-kira 13 tahun. Sudah satu jam lebih dia duduk di sudut halte itu. Entah sudah berapa bus kota yang berhenti, menurunkan dan menaikkan penumpang di hadapannya. Dia tetap tidak bergeming di tempatnya. Sesekali dia memperhatikan setiap gerak-gerik orang di sekitarnya.

Sejam yang lalu ketika aku tiba di halte ini, aku sempat menegurnya. Aku menanyakan dari mana asalnya, mau kemana, dan siapa namanya. Dia membalas sapaanku dengan senyuman, lalu dia menyebutkan namanya, Takdir. Dia berasal dari Sukabumi, tujuannya adalah Jakarta, tepatnya di halte ini.

Ya, halte ini tujuannya. Menurut ceritanya, dia seorang anak yatim-piatu yang dipungut oleh seorang kakek sekitar 13 tahun yang lalu. Setelah sang kakek meninggal, dia tidak punya siapa-siapa lagi. Sebelum sang kakek meninggal, dia sempat memperoleh informasi penting dari sang kakek tentang asal-asul dirinya yang sebenarnya. Kata sang kakek almarhum, sekitar 13 tahun yang lalu dia menemukan seorang bayi laki-laki dengan ari-ari yang melilit di tubuhnya dan terbungkus kain sarung di sebuah halte di Tomang. Bayi itu kemudian diberi nama Takdir.

Itulah alasan mengapa sekarang dia berada di situ. Menanti sesuatu yang tidak pasti. Tepat di belakangnya terpampang kertas iklan yang tadi ditempelkannya. Nampak jelas tulisan spidol berwarna hitam :

"Dicari, Orang tua yang pernah meletakkan bayinya di sini 13 tahun yang lalu. Hubungi Takdir, di sini."

Kalimat yang menimbulkan gelak tawa atau setidaknya senyuman pada setiap orang yang membacanya, meski ada juga beberapa yang nampak trenyuh melihatnya. Namun anak itu tidak perduli pada tanggapan orang-orang di sekitarnya. Dia tetap duduk manis di situ. Dia sangat lugu. Dua orang pengamen nampak menghampirinya, menertawakan dan melecehkannya.

“Lu nyari orang tua lu, ya?” tanya salah seorang pengamen yang bertubuh ceking dan berambut gondrong sambil memeluk gitar bututnya.

“Iya,” jawab anak itu singkat.

Kedua pengamen itu terkekeh lagi. Pengamen yang satunya lagi yang mengenakan kacamata dan bergigi tongos mencibir dengan tatapan sinis. “Heh! Lu ngimpi, ya?”

Anak itu nampak bingung. “Ngimpi?”

“Iye, ngimpi! Mana ada orang yang mau ngakuin lu anaknya?!” kata si gondrong menyela. “Yang namanya orang… Kalo anaknya udah dibuang, ya nggak bakalan dicari lagi, dongok!”

“Iye! Itu artinya lu anak yang nggak diarepin… Anak haram!” tambah si tongos lagi dengan kasar.

“Saya bukan anak haram!” timpal anak itu emosi. Wajah lugunya yang muram memerah seperti buah tomat.

“Abis apa dong? Anak kuntilanak?!” balas si tongos itu lagi ikut-ikutan emosi.

“Udah, deh… Nggak usah mikirin yang nggak-nggak! Yang penting sekarang gimana caranya lu bisa cari duit buat makan di Jakarta. Biar bisa hidup,” kata si gondrong mencoba mencairkan suasana. Anak itu tak menghiraukannya. Dia diam saja.

“Iye! Mendingan lu ikut kita aja, ngamen!” bujuk si tongos sambil memicingkan matanya. Anak itu tetap diam.

“Lu udah makan, belum?” tanya si gondrong lagi.

Anak itu menggeleng.

“Nah! Kalo gitu, lu ikut kita aja ngamen. Ntar gua kasi duit buat makan. Kebeneran kita lagi butuh tambahan personil, nih… Mau nggak?”

Anak itu menggeleng lagi. “Saya di sini saja.”

“Bener nih, nggak mau?!” bujuk si tongos lagi setengah memaksa.

Anak itu lagi-lagi menggeleng.

“Ya, udah! Emangnya gue pikirin?!” kata si tongos nampak kesal.

Kedua pengamen itu kemudian pergi. Anak itu kembali duduk manis menikmati kesendiriannya dalam penantian di tengah hiruk-pikuk lalu-lalang bus kota dan kendaraan lain di hadapannya. Aku sendiri juga masih terpaku tidak jauh dari tempatnya duduk. Sebenarnya sedari tadi, aku juga ingin pergi setelah anak itu tidak menghiraukan saranku untuk melupakan angan-angannya bertemu kedua orang tuanya. Tapi entah mengapa, seperti ada sesuatu yang melarangku beranjak dari situ meninggalkan anak itu begitu saja. Nuraniku memaksaku untuk tinggal di situ, mencari cara bagaimana membantunya atau paling tidak mungkin melindunginya dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Kulirik jam tanganku, waktu telah menunjukkan Pukul 17:45. Hari sudah sore, menjelang magrib. Jalan di depanku seperti biasanya, nampak semakin macet. Aku kembali mendekati anak itu. Aku mencoba tersenyum padanya, dia menyambutku dengan tatapan curiga. Aku duduk di sampingnya.

“Hari sudah menjelang magrib, kenapa masih di sini?” kataku mulai membuka percakapan.

“Saya menunggu orang tua saya,” jawabnya lirih.

“Sebentar lagi waktunya shalat maghrib. Setelah shalat kamu kan bisa balik ke sini lagi? Kamu mau ikut shalat berjamaah?”

“Iya, Pak.”

“Di belakang gedung itu ada masjid. Kita shalat di situ aja,” kataku sambil menunjuk ke gedung di seberang jalan. Anak itu mengangguk.

“Yuk!” ajakku cepat.

Aku bangkit dari dudukku, anak itu mengikuti. Kami lalu menyeberang jalan menuju sebuah masjid. Tidak berapa lama kemudian azan magrib berkumandang, lalu kami shalat berjamaah dengan yang lainnya. Selesai shalat, aku perhatikan anak itu berdoa. Bibirnya nampak bergetar. Matanya yang cekung terkatup, lalu perlahan meneteskan air mata. Aku memperhatikannya dengan seksama. Betapa besar harapan anak itu pada kedua orang tuanya yang entah dimana itu. Harapan seorang anak yang memimpikan bertemu kedua orang tuanya, harapan seorang anak yang merindu kasih sayang orang tuanya.

Aku teringat dengan Melati, putri semata wayangku di rumah. Usianya sudah enam tahun. Dia cantik, cerdas, dan periang. Aku dan istriku sangat memanjakannya. Banyak anak tentu akan senang dengan perhatian lebih dari kedua orang tuanya, akan tetapi tidak dengan Melati. Belakangan anak itu sering mengeluh.

“Papa… Melati bosan. Kenapa sih, Melati nggak punya adik atau kakak kayak teman-teman yang lain?”

“Sabar, ya, sayang. Tuhan belum mengabulkan doa kita,” bujukku selalu.

Aku kembali mendekati anak itu, siapa tahu kali ini dia mau mendengar nasehatku. “Takdir…”

Anak itu menoleh padaku, aku berusaha tersenyum manis padanya. Dia menyambutku dengan tatapan dingin, kemudian menundukkan wajahnya. Sepertinya dia sudah tahu maksudku.

“Kamu sudah makan?” tanyaku berusaha seramah mungkin.

Anak itu menggeleng. “Belum, Pak.”

“Sama, saya juga belum makan. Bagaimana kalau kita makan malam di warung dekat halte tadi, mau?”

Anak itu diam saja, seperti memikirkan sesuatu.

“Jangan khawatir. Aku yang bayar, gimana?”

Dia nampak ragu. “Mmm… Terima kasih. Saya tidak mau merepotkan Bapak,” katanya santun.

Aku tertawa ringan, berusaha mencairkan suasana. “Oh, tidak. Sekali-sekali, kan tidak apa? Sebenarnya istri saya sudah menyiapkan makan malam, tapi kayaknya tidak keburu. Perutku sudah keroncongan, nih. Kamu mau, kan, menemani aku makan?” kataku membujuknya.

Anak itu nampak masih ragu. Aku menepuk pundaknya, sok akrab.

“Ayolah… Kamu juga lapar, kan? Perut tidak boleh dibiarkan kosong, nanti masuk angin. Bagaimana kalau kamu sakit? Kamu tidak bisa mencari orang tuamu lagi, kan?”

Setelah berpikir sejenak, anak itu akhirnya mengangguk. Aku pun menghela napas lega, akhirnya anak itu mau juga. Sekarang aku mengajaknya makan, setelah itu aku akan membujuknya agar dia mau ikut ke rumahku. Aku yakin Istri dan anakku Melati akan menyambutnya riang.

Kami akhirnya makan malam bersama di sebuah warung kaki lima tidak jauh dari halte itu. Aku memesan dua porsi ayam goreng pecel. Sambil menikmati empuknya paha ayam di hadapanku, sesekali aku melirik anak itu. Meski awalnya malu-malu. Dia menikmati hidangan dihadapannya dengan sangat lahap. Benar dugaanku, anak itu kelaparan.

Takdir, anak yang malang. Entah berapa banyak anak-anak di kota metropolitan ini yang bernasib sepertinya. Tidak pernah merasakan belaian kasih sayang dari orang tuanya, bahkan tak pernah tahu dimana orang tuanya berada. Demi sesuap nasi mereka harus berjuang menghadapi kerasnya kehidupan, bahkan tidak jarang yang mempertaruhkan nyawa. Menjadi tukang semir sepatu, mengamen, kuli bangunan, kuli pelabuhan, pemulung, dan tidak sedikit yang menjadi gembel dan peminta-minta, bahkan menjadi pencopet dan penodong. Padahal sebagian dari mereka mungkin adalah anak-anak orang berada yang tidak diinginkan kelahirannya. Mereka anak-anak yang terbuang. Jauh di dalam lubuk hatinya, mereka pasti bertanya gerangan apa dosa mereka sampai kedua orang tua yang seharusnya menyayangi dan mengasihi mereka justru tega membuang dan melupakan mereka begitu saja? Mereka bagaikan sampah dan kotoran yang menjijikkan, dibuang dan dicampakkan. Kalaulah mereka ditanya, tentulah mereka tidak pernah berharap untuk dilahirkan di dunia ini. Hidup sebatang kara dalam kesendirian, kesunyian, keterasingan. Mereka hanyalah korban dari perbuatan kotor dari manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab yang mencoba menyembunyikan aib mereka dari hadapan orang banyak, padahal mereka tidak sadari ada Dzat yang Mahamengetahui dan selalu mengawasi gerak-gerik mereka. Sang Maha Kuasa yang akan meminta pertanggung jawaban mereka di kemudian hari. Takdir dan anak-anak yang senasib dengannya mungkin tidak akan pernah tahu siapa dan dimana orang tuanya, akan tetapi kelak di hari pembalasan mereka pasti akan melihat siapa-siapa gerangan orang tua mereka yang tidak bertanggung jawab itu. Bersabarlah, Takdir. Kini aku ingin membawamu pulang. Aku ingin kau menjadi anakku, kakak bagi Melati.

Setelah makan kami kembali ke halte itu, kami lalu duduk berdampingan seperti sepasang ayah dan anak. Aku menatap anak itu, kali ini dia membalas tatapanku ceria.

“Terima kasih, Pak,” katanya tersenyum padaku.

“Sama-sama,” anggukku membalas senyumannya.

Sesaat kami terdiam dalam keramaian kendaraan yang terjebak macet di petang itu. Sekali lagi aku mencoba membujuknya.

“Sudah malam. Kamu mau ikut aku ke rumah?”

Anak itu menggeleng. “Tidak, saya di sini saja. Saya menunggu orang tua saya, Pak.”

Aku tertawa ringan. “Orang yang kamu tunggu sudah ada di sini sejak tadi.”

Dia menatapku heran. “Maksud Bapak?”

“Akulah orang tuamu yang kamu cari itu,” jawabku berusaha tetap tenang.

Anak itu nampak tersentak kaget. Dia menatapku tajam, sangat tajam seperti ingin menusuk wajahku.

“Akulah yang meletakkan kamu di sini 13 tahun yang lalu, sekarang aku ingin mengajakmu pulang.”

Anak itu masih menatapku tajam tanpa sepatah kata pun. Matanya melotot seperti ingin menelanku bulat-bulat.

“Percayalah! Akulah orang tuamu. Ikutlah denganku, nak. Ibu dan adikmu menunggumu di rumah!” kataku lagi mencoba meyakinkannya.

Anak itu tetap diam, mata cekungnya itu masih menatapku. Kedua bola matanya berkaca-kaca, berkilauan memancarkan cahaya.

Aku balas menatap wajahnya lekat-lekat. “Apa kamu tidak percaya aku adalah ayahmu? Coba lihatlah mukaku, sangat mirip dengan mukamu! Kenapa? Karena kamu darah dagingku, anak kandungku!”

Anak itu tetap menatapku, mukanya merah merona seperti api. Aku mendengar gemerutuk gigi-geliginya.

“Aku akui, aku memang salah. Waktu itu kami belum siap untuk menikah dan punya anak. Aku masih menganggur, sedangkan ibumu… Ibumu masih terlalu muda untuk menjadi seorang ibu. Kami sangat menyesali perbuatan kami dulu. Sekarang, mau kah kamu memaafkan kami dan kembali tinggal bersama kami?”

Tiba-tiba anak itu bangkit dari duduknya. Kini aku melihat neraka di wajahnya, api yang berkobar-kobar. Dia melangkah mundur, mencoba menjauh dariku. Aku masih membalas tatapannya, mengawasinya.

Secara tiba-tiba anak itu berteriak. “Bohong! Kamu pembohong!” tudingnya histeria. Aku tersentak kaget.

“Aku ayahmu, nak!” ibaku dengan suara bergetar.

“Bohong! Kalau kamu ayah saya, kenapa kamu tega membuang saya seperti sampah?!” teriaknya membahana.

Aku segera bangkit dari dudukku, mencoba mendekatinya. Anak itu melangkah mundur seperti bersiap-siap untuk lari.

Aku mengulurkan tanganku penuh harap. ”Kembalilah anakku… Kembalilah!”

Aku tak tahu kenapa. Aku seperti larut dalam sandiwara yang aku karang sendiri. Aku berpura-pura mengaku sebagai ayahnya dengan harapan dia mau mempercayaiku. Aku ingin menjadi ayahnya. Akan tetapi kini, aku seperti menjadi ayahnya yang sesungguhnya. Ayah yang telah membuangnya dulu, membuangnya seperti kotoran yang menjijikkan. Kini aku telah menyesali segala perbuatanku dulu, aku ingin mengambil kembali anak yang dulu aku anggap aib itu. Akan tetapi kenapa dia tidak mempercayaiku? Apakah karena aktingku kurang sempurna, kurang menyentuh? Ataukah karena sebab lain?

Aku kembali mencoba meraih tangannya. Sebelum dia terlanjur kabur, aku harus menghalanginya. Dengan sigap anak itu menepis tanganku dan mundur dua langkah menjaga jarak denganku.

“Tidak! Jangan mendekat!” ancamnya dengan murka. “Kamu bukan ayah saya! Kamu tega membuang anak kandungmu sendiri! Tidak punya perasaan! Kamu jahat! Jadi kamu tidak pantas menjadi orang tua saya! Pergi kamu! Pergi!”

Aku hanya diam terpaku menyaksikan anak itu berteriak-teriak histeris memakiku. Menghujat orang yang mengaku sebagai ayahnya ini. Aku menghela napas. Anak itu mempercayaiku sebagai ayahnya dan karena itu dia tidak mau mendekatiku lagi. Ketika aku mencoba mendekatinya lagi, anak itu malah kabur. Anak itu pergi, dia berlari sekencang-kencangnya meninggalkanku dalam kekecewaan. Dia merindukan kedua orang tuanya, kemudian dia mencari mereka, akan tetapi rupanya dia tidak siap untuk bertemu dengan kedua orang tuanya… Oh, bukan… Bukan tidak siap, pikirku… Tapi jijik!

Adn@n

2 komentar:

MAYA mengatakan...

I don't like the ending of the story
............

Tapi saya salut dengan imajinasi-imajinasi anda, menciptakan karakter yang real.. dan kadang berbeda..
Imajinasi anda yang mendekati kisah nyata

Good Luck for next short story

adnan mengatakan...

Hahaha...

Saya senang banget kita bisa saling menanggapi tulisan masing-masing. Kita bisa saling mengoreksi kekurangan masing-masing dalam menulis. Meski pengalaman menulis saya lebih banyak, namun bukan berarti akan selalu lebih baik dari Maya. Saya juga masih terus belajar lho...:)

Kisah ini berangkat dari kisah nyata, anak-anak seperti Takdir banyak di kota-kota besar termasuk Jakarta, mungkin juga di Padang. Saya ingin pembaca mengambil hikmahnya.

Mengenai ending, saya memang senang membuat ending yang menggantung, bikin penasaran, dan nggak enak...:) Seandainya Maya yang nulis, Maya pingin ending yang bagaimana?

So, thanks banget atas komentarnya.

Good luck to you.