Senin, 30 Juni 2008

Jangan Biarkan Aku Mencintaimu

Namaku Riyanti. Teman-temanku biasanya memanggilku dengan Yanti, meski aku sendiri lebih suka dipanggil dengan Ri’ saja. Sebutan Yanti bagiku sudah terlalu pasaran. Usiaku 30 tahun, usia yang sudah cukup matang bagi seorang wanita karir. Sebagaimana umumnya wanita berbintang Pisces, kata teman-temanku, aku orangnya ramah, simpatik, dan ambisius. Namun aku juga sangat sensitif, keras hati, dan mudah terluka.

Banyak orang bilang aku ini terlalu cantik untuk hidup melajang seperti sekarang. Kata mereka, mataku indah, bening, dan bercahaya. Bibirku yang katanya seksi, murah senyum. Mereka juga sering memuji rambut hitamku yang lurus tergerai sampai ke punggung. Kulitku yang putih, bersih, dan mulus terawat juga sering menuai pujian. Dengan tinggi 165 sentimeter dan berat 50 kilogram yang selalu kujaga, postur tubuhku memang cukup ideal. Belum lagi dengan kebiasaanku tampil modis, semakin mengundang kekaguman terutama dari kaum pria.

Sebagai wanita tentu aku senang dengan semua pujian itu, walau kadang-kadang aku juga sering merasa risih dengan tatapan sebagian kaum pria yang memandangku lebih dari sekedar kekaguman. Godaan dari pria iseng juga sering aku alami, mungkin karena terlalu seringnya sampai-sampai aku sudah menganggapnya seperti angin lalu saja. Paling aku akan menanggapinya dengan senyum, lalu menghindar.

Beberapa diantaranya tentu berusaha mendekatiku, biasanya dengan mengajakku makan siang atau sekedar berbincang di waktu senggang. Sebagian diantaranya aku tanggapi dengan positif selama masih dalam batas-batas kewajaran. Sekedar teman bolehlah, tapi lebih dari itu, tidak. Aku masih cukup bahagia dengan kesendirianku. Beberapa diantaranya sebenarnya cukup menarik dan simpatik, akan tetapi bagiku semua laki-laki sama saja, brengsek!

Aku bekerja di salah satu perusahaan produsen minuman ringan multinasional. Dengan latar belakang pendidikan sarjana akuntansi, aku merasa sangat cocok dengan pekerjaanku yang sekarang. Aku sangat menikmatinya. Setelah dua tahun bekerja, kini aku menempati posisi Chief Accountant di perusahaan yang mempunyai omset ratusan milyar rupiah per tahun itu.

Aku mengawali rutinitas keseharianku pagi ini seperti biasa, tiba di kantor pukul delapan kurang. Seperti biasa pula, aku akan melewati ruang kerja Arif yang selalu datang lebih awal. Ruang kerjanya yang berjendela kaca membuatnya dapat terlihat dengan jelas. Biasanya, meski dia sedang sibuk dengan note book-nya, dia akan tetap menyempatkan diri untuk mengucapkan selamat pagi untukku atau paling tidak tersenyum padaku. Tapi kali ini tidak, dia tidak ada di ruangannya. Kursinya masih kosong dan note book-nya yang selalu dibawanya juga belum kelihatan nangkring di atas mejanya. Tumben, kemana dia?

Aku menghirup kesejukan di ruang kerjaku, lalu meraih berkas yang disiapkan stafku di atas meja. Setelah membolak-balik kertas kerjaku beberapa lama, entah mengapa aku tiba-tiba teringat dengan Arif. Aku lalu bergegas keluar dari ruangan, lalu berhenti tidak jauh dari ruang kerjanya. Aku berpura-pura membolak-balik koran pagi yang tergeletak di meja satpam sambil melirik ke ruangan berjendela kaca itu. Masih kosong, mejanya masih tertata rapi seperti tadi.

Aku jadi penasaran, tidak biasanya dia datang terlambat. Tapi, ah! Apa perduliku, memangnya dia siapa? Kami hanya sekantor dan pekerjaannya di bagian riset tidak ada hubungan langsung dengan tugas-tugasku di akunting. Dia sendiri masih baru di sini, baru empat bulan. Sebelumnya dia bekerja di luar negeri. Dia memang pria yang tampan, simpatik, dan sopan. Akan tetapi bagiku dia sama saja dengan pria-pria yang lain. Aku tidak punya perasaan apa-apa padanya. Jadi, kok, aku jadi uring-uringan begini hanya karena dia terlambat masuk kantor?

Aku kembali masuk ke dalam ruang kerjaku, memulai aktivitas yang lumayan padat hari ini. Pagi ini aku harus menganalisa ledger yang disusun oleh stafku di layar komputer. Akan tetapi setelah sekian lama aku berusaha berkonsentrasi, aku tetap tidak mampu memfokuskan pikiranku pada pekerjaan. Entah mengapa aku jadi gelisah begini? Aku teringat lagi pada pria itu. Tanda tanya menari-nari dalam benakku. Kenapa dia terlambat masuk kantor? Bukankah selama ini dia sangat disiplin? Atau dia sakit? Atau mungkin dia ada urusan lain? Atau dia pindah kerja? Oh, tidak mungkin. Kalaupun dia memutuskan untuk pindah kerja, pasti aku akan tahu. Meski masih baru, dia cukup populer di kantor ini. Si Ria, Sri, dan Dian, karyawati-karyawati genit yang selama ini suka mencari perhatian padanya, tentu akan heboh. Lagipula dia kan belum lama di sini? Atau… Ah! Benar-benar menjengkelkan!

Aku bertanya-tanya, seberapa pentingkah dia sampai aku memikirkan ketidakhadirannya hari ini? Aku jadi kesal pada diriku sendiri. Apakah aku mulai tertarik padanya? Oh, tidak. Jangan sampai, deh! Aku berusaha berpikir positif. Aku menjadi seperti ini mungkin karena ketidakhadirannya adalah sesuatu hal yang di luar kebiasaan, jadi wajar kan kalau aku jadi bertanya-tanya? Hmm… Benar juga, pikirku. Jadi dia tidak perlu besar kepala kalau dia sampai tahu bahwa aku mencarinya.

Aku lalu bergegas keluar, lalu menghampiri salah seorang stafnya, Evi. Kelihatannya dia sedang santai.

“Hai, Vi? Lagi nyantai, nih?”

“Oh, nggak juga… Silahkan duduk, Mbak,” sambutnya ramah mempersilahkan aku duduk di dekatnya.

“Thanks… Pinjam, ya?” kataku sambil duduk di dekatnya, lalu meraih sebuah tabloid yang tergeletak di atas mejanya.

Aku lalu membolak-balik tabloid yang sudah kubaca dua hari yang lalu. Aku berpura-pura serius, sambil memikirkan rangkaian kalimat tanya yang harus aku sampaikan padanya agar tidak terkesan aku sedang mencari tahu keberadaan atasannya.

“Sepi-sepi aja, ya? Kemana si Ria? Biasanya pagi-pagi begini dia sudah ada di sini…” tanyaku memulai percakapan.

“Iya, Mbak… Mungkin lagi pada sibuk dengan pekerjaannya. Dikejar-kejar deadline kali,” jawab Evi agak serius.

Aku mengangguk-angguk paham. “Oh, gitu… Ngomong-ngomong bos kamu mana? Kok dari tadi nggak kelihatan? Tumben dia belum datang … Cuti, ya?”

“Nggak, Mbak. Pak Arif kan pindah ruangan ke belakang situ?” jawab Evi sambil menggeleng, lalu menoleh ke belakang.

Aku ikut menoleh ke ruangan yang sepengetahuanku masih kosong yang terletak persis di belakang kami. Astaga! Benar kata Evi, pria itu sedang duduk santai di ruangan barunya sambil memandangku tersenyum dari balik jendela kaca.

“Pak Arif tadi masuk kantor seperti biasa, Mbak. Beliau yang paling awal datang ke kantor ini,” jawab Evi tenang. “Memangnya kenapa, Mbak?”

“Oh, nggak… Aku…”

Kenapa aku jadi grogi begini, ya?

“Kok pindah? Kapan pindahnya?”

“Pindahannya kemarin sore, Mbak. Kata Pak Arif, dia lebih suka pindah ke belakang, lebih lega,” jawab Evi dengan polosnya.

Aku mengangguk-angguk. “Oh, begitu? Iya juga sih memang lebih lega…”

“Iya. Biar aku bisa lebih leluasa memandang setiap orang yang lewat di depan…” kata Arif tiba-tiba muncul di belakangku. Astaga! Aku tersentak.

Evi langsung bangkit dari tempat duduknya.

“Maaf, saya tinggal sebentar, mau ke belakang dulu. Silahkan duduk, Pak,” kata Evi mempersilahkan Arif duduk di kursinya.

Pria itu tidak menyianyiakan kesempatan, dia langsung duduk di dekatku dan menatapku penuh simpatik. Entah mengapa kali ini aku merasa agak sedikit gugup.

“Pagi ini kamu kelihatan agak santai,” katanya memulai percakapan.

“Oh, ya? Tahu dari mana?” kataku cuek sambil berpura-pura serius membaca tabloid di tanganku.

“Biasanya sampai jam segini kamu masih sibuk di ruang kerjamu, tapi aku perhatikan dari tadi kamu mondar-mandir aja.”

Sialan! Rupanya dia memperhatikan aku sejak pagi tadi. Jangan-jangan dia juga tahu kalau aku sedari tadi mencari-cari dia? Dia pasti melihatku ketika aku membolak-balik koran di meja satpam sambil melirik ke ruangan kerjanya yang lama, dia juga melihatku ketika aku mendatangi Evi di tempat ini. Duh! Mimpi aku semalam? Malu banget, deh!

“Mmm… Nggak juga. Kebetulan hari ini tidak begitu banyak yang harus aku kerjakan,” jawabku berusaha tetap tenang. Aku merasa mukaku memerah.

Pria itu tersenyum, lalu melirik jam tangannya. “Hampir jam duabelas. Aku punya usul, gimana kalau kita makan siang bareng di restoran tempat kita makan dulu? Aku sudah lama nggak ke sana. Kalau bisa, kita berdua aja…”

“Kenapa harus berdua aja?”

“Nggak apa-apa kan, sekali-sekali kita makan siang berdua?”

Aku terdiam sesaat. Ini yang kesekian kalinya dia mengajakku makan siang. Biasanya setiap mengajakku makan siang, aku selalu meminta Yuni menemaniku atau pernah juga Evi yang mendampingi bosnya itu. Aku tidak pernah mau menerima ajakannya makan siang berdua. Akan tetapi kali ini, entah mengapa, aku tak kuasa menolaknya. Lagi pula hanya makan siang kok, tidak lebih. Selama ini sikapnya cukup baik dan sopan, jadi tidak ada salahnya kalau aku memenuhi permintaannya kali ini. Ehemm...

*****

Setelah menyelesaikan hidangan makan siang, kami lalu berbincang santai. Pria itu lagi-lagi menatapku penuh simpatik. Mata yang teduh itu menatapku penuh arti, aku selalu tak kuasa membalas tatapan lembutnya itu.

Dia bercerita tentang masa kecilnya, kuliah, dan bekerja di luar negeri sampai kemudian dia memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Meski awalnya dia kelihatan agak pendiam dan serius, ternyata selera humornya cukup tinggi. Aku sering tertawa geli dengan guyonannya yang kocak. Dia juga pendengar yang baik. Kepribadiannya cukup menarik ternyata. Kami mulai akrab. Percakapan kami mengalir dengan lancar, sampai kemudian dia mulai menggodaku...

“Aku suka dengan kepribadian kamu yang mandiri. Kamu ramah, simpatik, cerdas dan pekerja keras. Menurutku, kamu memiliki semua unsur-unsur yang harus dimiliki oleh seorang wanita karir yang sukses,” katanya dengan mimik serius.

Aku tertawa. “Kamu tidak sedang menggombalku, kan? Aku tidak gede rasa, lho. Pujianmu berlebihan!”

Pria tampan itu tertawa ringan, renyah. “Aku memang tidak sedang memujimu apalagi menggombalmu, aku hanya menyampaikan apa yang aku ketahui tentang dirimu. Jadi kamu tidak perlu merasa ge'er.”

Dasar! Pria ini pandai berkelit juga rupanya.

*****

Langit beranjak malam. Bintang-gemintang memancarkan cahayanya penuh gemerlap, sementara sang rembulan mengintip malu dari balik dedaunan di ranting pohon yang rindang. Aku masih sendiri dalam keheningan sepiku, ketika deringan ponselku menghentakkan heningku. Itu dari Arif, pria yang sedang serius mendekatiku. Pria yang telah menyatakan cintanya padaku beberapa hari yang lalu setelah acara makan siang itu. Dia tetap gigih, meski aku selalu menghindar setiap dia meminta jawaban dariku.

Aku meraih ponselku, kudengar suaranya yang merdu menggelitik gendang telingaku. Dia memaksaku untuk menerima kunjungannya malam ini. Hanya malam ini, pintanya. Ya, sudah… Setelah yang kesekian kalinya aku selalu menolak kedatangannya, aku terpaksa mengijinkan dia datang malam ini. Tapi sebentar saja karena aku juga butuh istirahat.

Aku menerimanya di ruang tamu. Dua cangkir teh hangat dan setoples kacang mede menemani kami di ruangan yang hening itu. Dia tahu aku tidak begitu tulus menerima kedatangannya. Aku merasa belum waktunya untuk dia mengunjungiku, masih banyak hal yang belum perlu diketahuinya tentang diriku. Melihat keadaan yang kurang kondusif, dia berinisiatif untuk mencairkan suasana dengan memulai guyonan-guyonan segarnya. Dia juga bercerita tentang pengalaman masa kecilnya yang penuh kelucuan. Kami lalu tertawa bersama, riang.

Malam yang hening berubah menjadi keceriaan yang menggembirakan, sampai kemudian Tiara muncul dari balik pintu kamarnya menjedakan keceriaan kami. Bidadari kecilku itu menghampiriku dan merengek minta digendong. Aku mengangkatnya kepangkuanku, lalu kudekap dan kucium dia kuat-kuat. Dia meresponnya dengan menyeringai dan tertawa girang. Diusianya yang sudah tiga tahun, dia nampak semakin lucu dan menggemaskan. Arif, pemuda lajang itu, hanya terbengong menyaksikan kemesraan kami berdua, ibu dan anak.

Arif tersenyum, kemudian bangkit dari duduknya dan menghampiri kami berdua. “Siapa namanya, adik kecilku?”

“Namanya Tiara… Kasih salam dong sayang,” pintaku pada si kecilku itu.

Tiaraku hanya tersipu. Pria itu kemudian meraih tangan kanannya yang mungil, lalu menciumnya lembut.

Sebelum dia bertanya, aku merasa perlu untuk memberitahukannya lebih dahulu. Tiada yang perlu aku tutup-tutupi lagi kini. Malam ini aku harus menceritakan semuanya padanya. Biar dia tahu, siapa sebenarnya wanita yang dicintainya ini.

“Dia anakku… Beginilah aku. Aku tidak seperti yang kamu bayangkan sebelumnya. Aku bukan gadis lagi, aku ini janda, aku sudah punya anak!” kataku dengan penuh percaya diri. Hatiku plong sekarang.

Di luar dugaanku, pria itu tersenyum, lalu membelai rambut anakku. “Aku sudah tahu semuanya tentang dirimu, Yanti. Sebelum aku menyatakan perasaanku padamu, aku sudah tahu kau adalah seorang janda beranak satu.”

“Oh, ya? Kalau begitu untuk apa kamu mendekati aku?!” tantangku sambil menatap wajahnya. Baru kali ini aku berani menatap kedua bola mata teduhnya itu.

Pria itu menatapku sangat tajam, seperti ingin menusuk jantungku. “Karena aku mengagumimu, aku mencintaimu… Status perkawinanmu tidak mampu membendung rasa cintaku padamu, malah membuatku semakin mencintaimu…” Upps!

4 komentar:

Vina Revi mengatakan...

Hmm, happy ending, ya?

adnan mengatakan...

Iya, ini cerpen saya yang tersulit karena sebagai pencerita, saya harus memposisikan diri sebagai wanita yang mengerti perasaan wanita.

Gogo Caroselle mengatakan...

wah, point of view dari sisi perempuan.. good post.. =)

adnan mengatakan...

Thanks gogo. saya sedang belajar memahami apa sih maunya perempuan yang sebenarnya. Moga aja gak salah...:)