Rabu, 22 April 2009

Jilbab vs Pacar

Tiga hari yang lalu saya menulis ungkapan dalam facebook :
“Seorang wanita muslim memutuskan untuk melepas jilbabnya karena memilih untuk berpacaran, itu dia lakukan sebagai penghormatan bagi wanita berjilbab?”

Tujuan saya menulis itu tidak lain adalah untuk sharing dengan teman-teman atas keputusan seorang teman saya yang sungguh di luar dugaan saya. Saya menggunakan tanda Tanya (?) diakhir anak kalimat saya karena saya pun belum tahu persis alasan dia yang sesungguhnya melepaskan kerudungnya itu. Ternyata di luar dugaan saya pula, saya langsung menerima tanggapan yang cukup banyak dan beragam dari teman-teman facebook. Tentu saja ada yang pro dan tidak sedikit yang kontra.

Ada yang menanggapinya dengan ungkapan :
“tidak semudah itu kalau niat dan iman yang kokoh disertai pemahaman agama yang benar. Tindakannya adalah bukan cerminan wanita muslimah.”
Ada juga yang menanggapi dengan ungkapan :
“O tentu tidak, bung Adnan. Bukankah dengan dia melepaskan jilbabnya, dia malah tidak menghormati dirinya sendiri?”
Seorang teman juga menanggapi dengan ungkapan :
“Yang saya tahu wanita berjilbab tidak mengenal pacaran.”
Ada juga yang menanggapi dengan ungkapan :
“Barang antik yang sangat berharga selalu kita letakkan di etalase istimewa, menjadikannya menawan, tapi apa jadinya bila diletakkan di tempat terbuka?”
Satu lagi teman saya memberi tanggapan yang agak berbeda dengan yang lain :
“Mungkin dia punya alasan lain yang kita nggak tahu atau mengerti. Mencoba berpikir positif aja mas, siapa tahu di balik itu dia punya niat baik, misalnya, buat memposisikan dirinya ke pasangannya, lalu mengajak ke kebaikan.”

Bagi saya semua tanggapan teman-teman saya itu benar, tentu ditinjau dari sudut pandangnya masing-masing. Dan saya tentu sangat berterima kasih karena setidaknya tanggapan-tanggapan mereka itu sedikit banyak telah membantu saya memahami dan membuat analisis yang lebih dalam atas keputusan teman saya untuk melepaskan atau lebih tepatnya menanggalkan kerudung yang selama ini menutupi auratnya itu.

Tentu banyak yang bertanya-tanya, mengapa saya bisa menyimpulkan bahwa wanita itu melepaskan kerudungnya yang selama ini menutup auratnya karena memilih untuk berpacaran sebagai penghormatan kepada wanita berjilbab? Apa hubungannya jilbab/kerudung dengan berpacaran dan penghormatan kepada wanita berjilbab?

Kita mulai dengan membahas hubungan antara jilbab/kerudung dengan pacaran. Sebagaimana yang diungkapkan oleh salah satu teman saya sebelumnya bahwa sepengetahuan dia, wanita berjilbab tidak mengenal pacaran. Memang benar, apabila ditinjau dari hukum Islam, pacaran atau khalwat, diharamkan dalam Islam.

Khalwat berasal dari kata khalaa-yakhluu-khalwah, artinya menyendiri. Istilah Khalwat dalam Islam digunakan untuk hubungan antara dua orang yang menyepi atau berdua-duaan di suatu tempat tanpa ada mahram atau muhrim-nya. Cinta adalah anugerah Tuhan yang terindah, cinta itu suci dan halal, namun cinta bisa menjadi haram, apabila kita salah dalam mengamalkannya. Cinta yang tidak dipagari oleh ikatan perkawinan yang sah menurut syariat Islam adalah haram hukumnya.

Allah berfirman dalam Al-Quran, surah Al-Isra’ ayat 32 :
“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang amat buruk.” (QS 17:32).

Dalam ayat tersebut sangat jelas dan tidak perlu penafsiran lagi bahwa Allah melarang kita untuk sekedar mendekati zina, apalagi sampai melakukannya. Larangan mendekati di sini bermakna preventif atau antisipatif. Mengapa zina tidak boleh didekati? Logika yang paling mungkin adalah karena Allah Maha Tahu bahwa orang yang mendekati zina tidak akan mungkin bisa selamat dari zina oleh karena lemahnya manusia dan hebatnya tipu daya syaitan.

Imam Ibn Katsir menafsirkan makna dari kata laa taqrabu adalah janganlah kalian mendekati dan melakukan perbuatan yang dapat menjadi sebab bagi terjadinya perzinaan atau mengajak kepada zina tersebut karena itu adalah merupakan dosa besar dan perbuatan yang amat buruk. Oleh karenanya, jelaslah bahwa semua perbuatan yang mendekati zina, seperti berduaan, memegang, saling memandang, berciuman dan seterusnya, hukumnya haram berdasarkan ayat ini.

Dalam ajaran dan sejarah islam tidak dikenal istilah pacaran, sehingga tidak dikenal pula istilah pacaran islami sebagaimana didengung-dengungkan oleh pihak-pihak yang ingin membenarkan pacaran yang dibungkus dengan istilah Islam, seakan-akan perbuatan tersebut sesuai dengan ajaran Islam, padahal Nabi dan para sahabatnya tidak pernah menganjurkan dan mencontohkan prilaku berpacaran.

Rasulullah tidak pernah mengajarkan umatnya untuk berdua-duaan dengan lawan jenis tanpa didahului oleh ikatan perkawinan yang sah menurut syariat Islam.

Bahkan Rasulullah SAW pernah bersabda :
“Jangan sekali-kali seorang laki-laki menyendiri dengan wanita kecuali ada muhrimnya, dan janganlah seorang wanita bepergian kecuali bersama muhrimnya (HR. Bukhari-Muslim).

Pada kesempatan lain, Rasulullah SAW juga pernah bersabda :
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka jangan sekali-kali dia berdua-duaan dengan seorang perempuan yang tidak bersama muhrimnya, karena yang ketiganya adalah syaitan (HR. Ahmad).

Ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah sangat memuliakan wanita, sehingga apabila ada seorang pria yang menyukai seorang wanita, maka wajiblah ia untuk datang melamar dan menikahi wanita yang dimaksud secara baik-baik menurut syariat Islam.

Pertanyaannya, mungkinkah kita menikah tanpa didahului pacaran? Salah satu teman di facebook mengungkapkan :
“Saya ketemu istri saya, satu minggu kemudian kami langsung menikah dan Alhamdulillah dengan kasih sayang Allah, kami telah pacaran dalam pernikahan hampir 18 tahun, oh ya, dia berjilbab ketika jilbab masih sesuatu yang asing dan nyaris tabu di negeri ini.”

Jadi terjawab sudah bahwa wanita muslim apalagi yang mengenakan jilbab/kerudung diharamkan untuk berkhalwat atau berpacaran. Lalu mengapa teman saya itu memilih untuk melanggar larangan agamanya sendiri demi pacarnya? Mungkin karena rasa cintanya kepada pacarnya itu, masih jauh lebih besar daripada cintanya kepada Allah. Cintanya yang besar itu juga belum mampu memberinya spirit untuk berani memutuskan untuk menghalalkan hubungannya itu dalam pernikahan yang sah. Itu adalah pilihannya, dan kita harus menghormati pilihannya itu karena dia pasti sudah paham akan segala konsekuensi dari pilihannya itu.

Lantas apa maksudnya teman saya itu membuka jilbab/kerudungnya sebagai penghormatan kepada wanita berjilbab? Jawabannya adalah dengan dia menanggalkan jilbab/kerudungnya, maka dia dapat menjaga kesucian, harga diri, harkat dan martabat wanita berjilbab/berkerudung lainnya yang tetap memegang teguh ajaran agamanya dan menghindarkan cemoohan orang pada wanita berjilbab/berkerudung lainnya. Wallahualam.

Demikianlah adanya, semoga Al-Quran dan Hadist dapat menjadi pedoman bagi kita untuk introspeksi diri. Apabila apa yang saya sampaikan ini benar, maka hakikatnya itu datang dari Allah, namun apabila saya salah, maka itu semata-mata karena kekhilafan saya. Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua untuk kembali ke jalan yang benar. Insya Allah.

Sabtu, 28 Februari 2009

Stimulus Fiskal

Usulan Paket Stimulus Fiskal dalam APBN Tahun 2009 sebesar Rp 71,3 triliun yang diajukan oleh Pemerintah melalui Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, akhirnya disetujui oleh DPR. Stimulus fiskal itu mendorong terjadinya peningkatan defisit anggaran dari Rp 51,3 triliun menjadi Rp 139,5 triliun atau meningkat dari 1 persen menjadi 2,5 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Dana Stimulus Fiskal sebesar Rp 56,3 triliun akan digunakan untuk penghematan pembayaran pajak (tax saving), melalui penurunan tarif Pajak Penghasilan badan dan pajak orang pribadi, dan menaikkan PTKP (penghasilan tidak kena pajak) sebesar Rp 43 triliun, kemudian subsidi Pajak DTP (pajak ditanggung pemerintah) dan BM DTP (bea masuk ditanggung pemerintah) kepada dunia usaha dan RTS (rumah tangga sasaran), yang meliputi insentif PPN (pajak pertambahan nilai) untuk eksplorasi migas dan minyak goreng Rp 3,5 triliun, bea masuk barang baku dan barang modal Rp 2,5 triliun, Pajak Penghasilan Pasal 21 (karyawan) Rp 6,5 triliun, dan Pajak Penghasilan panas bumi Rp 800 miliar. Sedangkan dana tambahan stimulus sebesar Rp 15 triliun akan digunakan untuk subsidi dan belanja negara kepada dunia usaha dan lapangan kerja. Hal itu mencakup subsidi solar Rp 2,8 triliun, diskon tarif beban puncak listrik untuk industri Rp 1,4 triliun, tambahan belanja infrastruktur, KUR (kredit usaha rakyat) Rp 10,2 triliun serta perluasan PNPM (program nasional pemberdayaan masyarakat) sebesar Rp 600 miliar.

Stimulus fiskal sebagai kebijakan counter cyclical ditujukan untuk menahan dampak krisis global, sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2009 diharapkan dapat bertahan sekitar 4 sampai 5 persen. Dalam rapat yang dipimpin Ketua Panitia Anggaran DPR Emir Moeis, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pemerintah dan DPR telah berkomitmen untuk melaksanakan stimulus fiskal pada kuartal I 2009 dengan persetujuan yang cepat dan perbaikan dalam proses pencairan anggaran. Menteri Negara PPN/Kepala Bappenas, Paskah Suzetta, meyakini kebijakan stimulus fiskal yang diajukan oleh pemerintah itu dapat meminimalisir dampak krisis ekonomi global terhadap Indonesia. Alasan pertimbangannya, sebagian besar dana stimulus tersebut akan dipakai untuk menggerakkan kegiatan ekonomi rakyat.

Paket stimulus fiskal pemerintah tersebut tentu mengingatkan kita pada paket stimulusnya Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Hussein Obama. Paket stimulus tersebut telah disetujui oleh Kongres dan Senat AS sebesar US$825 miliar. Dana sebesar US$550 miliar akan digunakan untuk menggerakkan investasi dan sebesar US$275 miliar untuk tax cut. Komponen lain yang termasuk dalam paket stimulus itu adalah US$90 miliar untuk infrastruktur, US$54 miliar untuk mendorong produksi energi yang dapat diperbaharui, US$87 miliar untuk pemeliharaan kesehatan bagi masyarakat berpendapatan menengah ke bawah, dan US$79 miliar untuk pendidikan.

Adapun kebijakan tax cut ala Obamanomic adalah pemotongan pajak bagi para buruh dan masyarakat berpenghasilan rendah di satu sisi, dan di sisi lain menaikkan tarif pajak bagi wajib pajak orang pribadi yang berpenghasilan di atas USD 250,000 pertahun.

Rencana Obama untuk memotong pajak bagi masyarakat menengah ke bawah dan menaikkan pajak bagi orang kaya tersebut telah sesuai dengan asas dan fungsi pajak yang sebenarnya. Salah satu asas pemungutan pajak dalam The Four Maxims-nya Adam Smith adalah asas equality atau asas keseimbangan dengan kemampuan, yaitu pemungutan pajak yang dilakukan oleh negara harus sesuai dengan kemampuan dan penghasilan wajib pajak. Sedangkan salah satu fungsi pajak adalah fungsi redistribusi pendapatan, dimana pajak yang sudah dipungut oleh negara akan digunakan untuk membiayai semua kepentingan umum, termasuk juga untuk membiayai pembangunan, sehingga dapat membuka kesempatan kerja dan pada akhirnya akan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat umum. Namun sangat disayangkan, pemerintah kita sendiri hanya menurunkan tarif pajak wajib pajak badan dan orang pribadi di satu sisi, namun di sisi lain tidak menaikkan tarif pajak bagi orang kaya seperti yang telah dilakukan oleh Obama.

Paket Stimulus Fiskal dalam APBN Tahun 2009 sebesar Rp 71,3 triliun atau 1,4 persen dari produk domestik bruto (PDB) tersebut, di atas kertas memang terlihat sangat potensial untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat yang memang merupakan tugas dan tanggung jawab pemerintah sebagai penyelenggara negara. Namun berdasarkan pengalaman yang sering terjadi, apa yang ada di atas kertas, ketika masuk ke dalam tataran implementasi, akan sangat sulit untuk dioptimalkan. Masalah inefisiensi dan tidak efektifnya pengelolaan anggaran akan timbul, seperti penyerapan anggaran belanja yang rendah, tidak tepat sasaran, pemborosan, dan tingginya potensi kebocoran. Akibatnya dana yang besar akan menguap begitu saja atau terbuang percuma karena tidak memberikan dampak yang berarti bagi perekonomian bangsa, kecuali mengutungkan segelintir pihak-pihak tertentu saja.

Padahal Undang-undang Dasar 1945, tepatnya Pasal 23, sudah mengamanatkan agar anggaran dan pendapatan belanja negara dilaksanakan secara terbuka dan bertanggung jawab untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Bahkan dalam ketentuan Pasal 3 Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara juga sudah ditegaskan bahwa keuangan negara harus dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan.
Sila kelima dari dasar negara kita Pancasila adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Harapan kita tentunya, semoga kebijakan stimulus fiskal pemerintah yang telah disetujui oleh DPR tersebut benar-benar bisa dilaksanakan secara terbuka dan bertanggung jawab untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat serta merefleksikan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Minggu, 22 Februari 2009

Si Dukun Cilik, Ponari


Ponari, nama yang begitu populer saat ini. Hanya dengan batu ajaibnya yang konon bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit, anak seorang petani miskin berusia sepuluh tahun itu, mampu menjadi magnit bagi ribuan orang untuk datang dan mengharapkan kesembuhan darinya.

Alkisah, pada suatu hari di Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, ketika sedang bermain dengan teman-temannya, Ponari tersambar petir dan disaat yang sama menemukan sebuah batu, batu yang kemudian diyakini mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit, hanya dengan meminum atau mengusap dengan menggunakan air yang telah dicelupkan dengan tangan Ponari yang menggenggam batu ajaib itu.

Begitulah, sebulan sudah, sejak pagi hingga malam setiap harinya, Ponari dengan mencelupkan batu ajaibnya menggunakan tangan, melayani ribuan orang yang rela mengantri di sepanjang jalan menuju tempatnya membuka praktik pengobatan. Seorang anak lugu yang masih duduk di kelas tiga sekolah dasar itu telah menjelma menjadi dukun cilik yang fenomenal.

Pertanyaannya sekarang, benarkan batu ajaib Ponari itu bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit? Menurut para psikolog, kalaupun ada pasien Ponari yang sembuh, itu bukan karena kesaktian batunya itu, akan tetapi tidak lebih dari efek sugesti yang dialami oleh pasiennya.
Apapun pendapat banyak orang, sesungguhnya fenomena Ponari itu dapat kita lihat dan sikapi dalam berbagai aspek, baik ekonomi, sosial, agama, budaya, dan tentunya pelayanan kesehatan.

Dari sudut pandang ekonomi dan sosial, niat tulus Ponari untuk mengobati banyak orang tanpa mengharapkan pamrih, justru telah menciptakan lapangan kerja baru bagi warga di desanya. Betapa tidak, akibat begitu banyaknya orang yang datang setiap harinya, telah menimbulkan inisiatif warga setempat untuk membentuk panitia yang bertugas mengatur antrian, membagi-bagikan kupon, hingga mengatur parkir. Kabarnya ada lebih dari seratus orang yang dilibatkan secara langsung sebagai panitia, dengan pendapatan per orang Rp 40.000 setiap harinya. Di tengah krisis ekonomi dan banyaknya pengangguran, kehadiran Ponari telah menjadi berkah buat banyak orang.

Dari sudut pandang agama dan budaya, pengobatan alternatif ala Ponari adalah hal yang sudah lazim di negeri ini. Sebagian orang tidak pernah lepas dari hal-hal yang berbau supranatural dan klenik. Lihat saja, ketika praktik pengobatan Ponari sempat ditutup oleh aparat, para pengunjung atau pasiennya tetap datang ke tempat Ponari dan melakukan hal-hal yang sangat tidak bisa diterima oleh akal sehat. Puluhan orang pengunjungnya tanpa rasa jijik sekalipun, berinisiatif untuk menampung dan meminum air selokan yang berasal dari tempat mandi Ponari yang mereka yakini mempunyai khasiat yang sama dengan air hasil celupan tangan dan batu ajaibnya. Hal yang membuat Majelis Ulama setempat telah mengeluarkan fatwa bahwa pengobatan Ponari sudah mengarah ke pengkultusan individu dan perbuatan syirik yang sangat diharamkan dalam agama Islam.

Dari sudut pandang pelayanan kesehatan, fenomena ribuan orang yang datang mengharapkan kesembuhan pada pengobatan Ponari tersebut adalah cerminan ketidakmampuan instansi kesehatan setempat untuk memberikan pelayanan kesehatan yang memadai dan murah untuk rakyatnya.

Fenomena Ponari tersebut, tidak hanya terjadi di Jombang, tapi juga terjadi di banyak daerah di negeri ini. Kita sering mendengar atau membaca cerita pilu di media massa, banyak orang sakit yang berasal dari keluarga miskin, terpaksa harus mengurut dada dan pulang ke rumah setelah ditolak oleh pihak rumah sakit karena tidak mampu membayar uang jaminan. Kita juga masih sering mendengar keluhan mengenai harga obat-obatan yang mahal. Fakta tersebut semestinya menjadi bahan refleksi bagi pemerintah untuk intropeksi diri dan memberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik kepada rakyat. Semoga.

Jumat, 06 Februari 2009

Fenomena Facebook

Seorang teman saya menunjukkan sebuah posting dari salah seorang temannya di Facebook. Isi kalimatnya, “Bisa nggak ya, dalam sehari aja kita nggak buka Facebook?”
Dalam waktu yang tidak berapa lama, posting-an tersebut, langsung di-comment oleh temannya yang lain di Facebook dengan kalimat, “nggak bisa!”

Dua minggu yang lalu, seorang teman saya bersungut-sungut karena jaringan internet di komputer kantornya tidak aktif selama sehari penuh karena ada gangguan teknis. Sepulang dari kantor, meski sudah malam dan dalam kondisi hujan, dia tetap memaksakan diri untuk keluar rumah dan mendatangi sebuah warnet, hanya dengan satu tujuan, menyapa teman-temannya di Facebook. Beberapa hari kemudian, dia akhirnya memutuskan untuk membeli modem dan memasang jaringan internet pascabayar di laptop-nya. Semua itu dia lakukan demi Facebook.

Cerita tidak berhenti sampai di situ, seminggu kemudian, seorang teman saya, dengan bangga menunjukkan BlackBerry yang baru dibelinya. Keputusannya untuk membeli BlackBerry, tidak lain agar lebih memudahkan dia untuk mengakses Facebook. Dalam beberapa hari, dua orang temannya yang lain juga memutuskan untuk membeli BlackBerry dengan maksud yang sama, demi Facebook.

Begitulah fenomena Facebook telah menjangkiti banyak orang pengguna internet. Facebook adalah situs jaringan sosial yang diciptakan oleh Mark Zuckerberg dan pertama kali diluncurkan pada 4 Februari 2004. Menurut data yang dilansir oleh Comscore, hingga saat ini, pengguna aktif Facebook sudah mencapai 130 juta orang, dengan pertumbuhan mencapai 135% pertahun.

Banyak hal positif yang bisa diambil dari situs jaringan sosial ini. Sama halnya dengan situs jaringan sosial lainnya yang sudah lebih dulu populer, seperti Friendster dan MySpace misalnya, situs ini dapat menjadi ajang pertemuan di dunia maya, baik antara teman, bertemu teman lama, maupun berkenalan dengan teman baru. Fitur messaging di Facebook ini dinilai lebih interaktif dibanding fitur messaging milik situs lainnya. Bahkan kini Facebook tidak semata menjadi ajang pertemanan, namun telah berkembang menjadi menjadi media untuk promosi dan kampanye politik yang cukup efektif. Salah satu kesuksesan Obama dalam meraih banyak dukungan dan dana juga tidak lepas dari peran Facebook ini.

Meski demikian, para pengguna Facebook juga harus tetap mewaspadai sisi negatif dari Facebook ini, selain efek adiktifnya, seperti lupa waktu kerja, beribadah, makan, dan istirahat, juga adanya ancaman dari virus Koobface. Virus ini memanfaatkan fitur messaging di Facebook untuk menginfeksi komputer, lalu mencoba mencuri informasi penting seperti kartu kredit yang memungkinkan kartu kredit pengguna Facebook dibobol oleh pelaku kriminal. Pengelola Facebook telah mengimbau anggotanya untuk menghapus email yang mencurigakan. Pengelola Facebook juga telah memposting petunjuk bagaimana membersihkan komputer yang terinfeksi virus di http://www.facebook.com/security.

Rabu, 21 Januari 2009

Presiden Barack Hussein Obama




Barack Hussein Obama akhirnya dilantik menjadi Presiden Amerika Serikat (AS) ke-44 di Capitol Hill, Washington D.C. dihadapan sekitar dua juta orang yang memadati National Mall. Dialah Presiden AS yang paling fenomenon, presiden berkulit hitam pertama di AS yang menjadi anomali bagi doktrin politik WASP (White – Anglo Saxon – Protestant). Dalam sejarah pemilihan presiden AS, belum pernah ada seorang calon presiden AS yang juga begitu diharapkan oleh bangsa-bangsa lain di dunia seperti Obama. Dengan modal pembawaannya yang percaya diri namun tenang, murah senyum, dan kemampuannya dalam berorasi, serta janjinya untuk melakukan perubahan, dia telah menjadi inspirasi bagi banyak orang yang menempatkan dirinya sebagai simbol demokrasi, persamaan, dan perubahan, bahkan saat ini dia telah menjadi selebritis dan magnit bagi jutaan orang di seluruh dunia.

Satu lagi kelebihan Obama dibanding para presiden pendahulunya dan pemimpin lainnya adalah kejeliannya memanfaatkan media internet untuk menjaring dukungan maupun dana. Bahkan tidak itu saja, hingga kini, Obama dan first lady Michelle serta tim kampanyenya tetap mengintensifkan jalinan komunikasi dengan para pendukung dan simpatisannya, baik yang ada di dalam maupun luar negeri. Sebagai salah satu buktinya, saya yang bukan warga AS dan tidak bisa ikut memilih dalam US Election, sejak masa kampanye hingga kini masih menerima informasi melalui e-mail dan webcam mengenai kegiatan-kegiatan Obama dan Michelle.

AS, setelah Uni Soviet runtuh, suka atau tidak suka, harus kita akui adalah penguasa dunia saat ini. Namun, Obama sebagai seorang Master Hukum lulusan Universitas Harvard dan aktivis Partai Demokrat yang gigih memperjuangkan demokrasi, diyakini akan menjadi figur pemimpin dunia yang tegas, namun santun. Dengan latar belakangnya yang penuh dengan warna, pria yang lahir di Hawaii dari rahim seorang wanita berkulit putih dan seorang ayah berkulit hitam asal Kenya dan di masa kecilnya sempat tinggal di Jakarta ini, diyakini akan lebih luwes berdiplomasi dalam pergaulannya di dunia internasional.

Sejak hari ini, Obama telah mempunyai kewenangan untuk mulai merealisasikan misi dan janji-janjinya. Dalam bidang politik, dia berjanji akan mengubah wajah pemerintahan AS yang saat ini sangat militeristik menjadi sebuah pemerintahan demokratis yang lebih mengedepankan jalur diplomasi dalam kebijakan luar negerinya. Kongkritnya, dia akan menarik tentara AS dari Irak, menutup penjara Guantanamo di Kuba, melakukan diplomasi dengan para pemimpin negara-negara penentang AS seperti Iran, serta janjinya yang terbaru, yakni mengupayakan perdamaian di Palestina. Bahkan dalam 100 hari pertama pemerintahannya, konon dia juga berniat untuk melakukan kunjungan pertama dan berpidato di negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, negeri masa kecilnya yang sangat dia rindukan, Indonesia.

Dalam bidang ekonomi, Obama juga menjanjikan upaya pemulihan krisis ekonomi yang melanda AS dan dunia. Konkritnya, dia akan mendesak Kongres AS, yang saat ini juga dikuasai oleh para koleganya dari Partai Demokrat, untuk menyetujui paket stimulus sebesar US$825 miliar. Menurut rencana, sebesar US$550 miliar akan digunakan untuk menggerakkan investasi dan sebesar US$275 miliar untuk melakukan tax cut atau pemotongan pajak bagi para buruh dan masyarakat berpenghasilan rendah di satu sisi, dan di sisi lain menaikkan tarif pajak bagi orang pribadi yang berpenghasilan di atas USD 250,000 per tahun.

Obama bukanlah mesiah atau nabi, dia hanyalah manusia biasa yang ingin melakukan perubahan. Sebagai Presiden dari negeri yang multi etnis, ras, dan keyakinan, dia juga harus mengakomodasi berbagai kepentingan rakyatnya yang berkulit putih maupun hitam, beragama nasrani maupun yahudi, namun setidaknya dia telah memberikan secercah harapan untuk perubahan wajah AS menjadi negara yang lebih demokratis, bersahabat, dan santun.

Sabtu, 10 Januari 2009

Tragedi Jalur Gaza


Dua pekan sudah Izrael memborbardir Jalur Gaza, sedikitnya 800 orang telah kehilangan nyawa, sebagian diantaranya adalah anak-anak dan wanita yang tidak berdosa, dan masih ada 3.300 orang yang terluka. Demikian kata Kepala Pelayanan Darurat Gaza, dr. Muawiya (Kompas, Jumat, 9/1). Sebagian besar korban adalah warga sipil, hanya sebagian kecil anggota HAMAS yang konon menjadi target yang sesungguhnya dari agresi militer Izrael kali ini.

Sedangkan di pihak Israel, 10 tentara tewas dalam agresinya ke jalur Gaza, 3 diantaranya adalah korban friendly fire atau korban salah tembak oleh temannya sendiri, dan tiga warga sipil tewas karena roket dan mortir yang ditembakkan dari Gaza sejak awal serangan.

Izrael berdalih, agresi militer tersebut mereka lakukan dengan tujuan untuk menghentikan serangan roket yang dilakukan oleh Pejuang HAMAS ke Israel. Agresi tersebut mereka lakukan dengan misi untuk melindungi warganya dari serangan roket dan mortir HAMAS. Agresi tersebut direstui oleh Pemerintah Amerika Serikat (AS), negeri penguasa dunia yang masih dipimpin oleh Goerge Walker Bush. Sedangkan Presiden terpilih Barack Hussein Obama belum bisa berbuat banyak, namun setidaknya dia telah menyatakan keprihatinannya dan berjanji untuk memprioritaskan perdamaian di Palestina ketika resmi dilantik menjadi Presiden AS tanggal 20 Januari nanti.

Saya seorang muslim yang mencintai agama dan saudara seiman, semua keluarga dan teman saya yang muslim sedang bersedih dan terluka melihat penderitaan saudara seimannya di Palestina, namun saya juga punya dua orang sahabat yang kebetulan orang Yahudi dan Nasrani yang justru mendukung agresi militer Izrael tersebut dengan alasan pejuang HAMAS yang lebih dulu menyerang dengan roket dan mortir yang telah membunuh warga Izrael dan mengancam keselamatan warga Izrael lainnya. Dalihnya, mereka hanya membela diri. Hingga kini, 3 nyawa warga Izrael dibalas dengan 800 nyawa warga Palestina.

Begitulah, perang tidak akan pernah menyelesaikan masalah, malah akan menambah masalah baru, dan yang menjadi korban dan paling menderita adalah warga sipil, bukan pejuang HAMAS maupun pasukan Izrael. Tak ada yang bisa kita lakukan saat ini selain berdoa untuk para syuhada di Jalur Gaza, memberikan bantuan obat-obatan dan kebutuhan pokok, serta mendesak PBB dan para pemimpin dunia untuk mengupayakan gencatan senjata dan perdamaian diantara kedua belah pihak. Percayalah, tiada sesuatu peristiwa apapun tanpa seijin Allah, pasti ada hikmah positif di balik semua ini.


Jumat, 02 Januari 2009

Happy New Year

Happy new year for you all, may God bless us!

Jumat, 26 Desember 2008

Ramai-ramai Bikin Iklan


Akhir-akhir ini kita sering menyaksikan begitu banyak iklan instansi pemerintah di televisi. Misalnya ada iklan yang mempromosikan sekolah menengah khusus, bahkan ada instansi pemerintah sampai mengadakan kegiatan pemberian award atau penghargaan yang ditayangkan di stasiun televisi nasional yang konon menghabiskan biaya milyaran rupiah. Yang lebih memprihatinkan lagi, ada beberapa iklan yang terkesan hanya ingin menampilkan dan mempopulerkan menteri atau pejabatnya. Pertanyaannya seberapa efektifkah iklan-iklan tersebut dan yang lebih penting lagi apakah manfaatnya sebanding dengan besarnya biaya yang dikeluarkan? Bukankah akan lebih bermanfaat apabila biaya yang milyaran rupiah tersebut lebih diprioritaskan untuk dialokasikan ke biaya pembangunan dan memperbaiki ratusan sekolah yang sudah rusak atau membayar tunjangan para guru di daerah terpencil yang konon masih sering dipotong oleh para pejabatnya?

Fenomena ini sudah berlangsung cukup lama, setiap akhir tahun anggaran, instansi-instansi pemerintah akan berlomba-lomba menghabiskan anggaran, baik dengan mengadakan kegiatan-kegiatan, maupun sekedar rapat-rapat formalistik yang diselenggarakan di hotel-hotel, di luar kota, di Puncak, maupun membayar iklan di media massa yang jumlahnya milyaran rupiah. Padahal Undang-undang Dasar 1945, tepatnya Pasal 23, sudah mengamatkan agar anggaran dan pendapatan belanja negara dilaksanakan secara terbuka dan bertanggung jawab untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Bahkan dalam ketentuan Pasal 3 Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara juga sudah ditegaskan bahwa keuangan negara harus dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan.

Sungguh ironis memang, di tengah-tengah krisis ekonomi global saat ini – hal yang menjadi alasan pemerintah untuk terus mengurangi subsidi BBM, menaikkan harganya, yang kemudian berdampak pada kenaikan harga semua kebutuhan pokok – namun di sisi lain para pejabat pemerintah sendiri justru berlomba-lomba menghabiskan anggaran dan pendapatan belanja negara yang sebagian besar berasal dari uang rakyat yang dipungut oleh pemerintah melalui pajak.

Sebenarnya tidak semua instansi pemerintah berprilaku seperti itu, masih ada juga iklan instansi pemerintah yang cukup efektif, seperti misalnya iklan Sunset Policy-nya Dikretorat Jenderal Pajak yang bersifat informatif dan mendidik yang cukup efektif dalam mengajak masyarakat Wajib Pajak untuk ikut berpartisipasi dalam membayar pajak. Iklan seperti itu yang semestinya ditiru oleh instansi lainnya.

Inifiensi ini sesungguhnya tidak semata-mata terkait dengan mental para menteri dan pejabat struktural di bawahnya, namun juga terkait dengan kualitas atau kompetensi pejabat yang bersangkutan. Ketidakmampuan menciptakan ide atau kreasi, mengakibatkan mereka hanya mampu melaksanakan kegiatan-kegiatan yang tidak menyentuh akar permasalahan yang sesungguhnya. Negeri ini masih butuh banyak aparat negara yang mempunyai integritas dan berdedikasi tinggi serta kreatif.

Minggu, 21 Desember 2008

Hari Ibu


Ribuan kilo jalan yang kau tempuh, lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang, masih terus berjalan, walau tapak kaki penuh darah, penuh nanah
Seperti udara, kasih yang engkau berikan, tak mampu ku membalas, Ibu... Ibu...
Inginku dekap dan menangis di pangkuanmu sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa lalui sekujur tubuhku, dengan apa ku membalas? Ibu... Ibu...



Itulah bait-bait lagunya Iwan Fals yang berjudul Ibu. Setiap menyanyikan lagu ini, entah mengapa hati saya selalu bergetar dan ingin menangis. Apa yang sudah saya lakukan untuk Ibu saya, belum berarti apa-apa dibandingkan dengan pengorbanan dan doa-doanya selama ini. Beruntunglah kita yang masih mempunyai Ibu karena masih ada kesempatan buat kita untuk membalas jasa-jasanya atau setidaknya membuatnya bahagia. Jangan sampai kita mengecewakan Ibu kita. Selamat Hari Ibu.

Sabtu, 13 Desember 2008

Commercial Break



Setiap kali kita menonton sebuah acara di televisi, entah itu film, sinetron, berita, olah raga, atau musik, tentu akan diselingi oleh commercial break atau tayangan iklan dari berbagai macam produk. Sebagian dari kita mungkin merasa terganggu atau kesal dengan keberadaan iklan-iklan tersebut, namun sesungguhnya advertising atau iklan-iklan itulah yang menjadi penopang utama sebuah acara di stasiun televisi. Penghasilan stasiun-stasiun televisi di Indonesia sebagian besar berasal dari tayangan iklan. Oleh karenanya semakin tinggi rating sebuah acara, maka akan semakin lama pula durasi iklannya dan semakin tinggi pula tarif iklan yang harus dibayar oleh produsen pengiklan kepada stasiun televisi.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat mengikuti workshop penyutradaraan film iklan dengan mentor Dimas Jayadiningrat, salah satu director atau sutradara film iklan dan video klip musik papan atas di Indonesia. Beberapa film iklan yang pernah dibuatnya dan sering ditayangkan di berbagai stasiun televisi, antara lain adalah Bentoel, Star Mild, dan Promag. Pembuatan film iklan ternyata tidaklah simpel dan sesingkat durasi penayangannya yang hanya dalam hitungan detik. Pembuatan film iklan sangat kompleks dan membutuhkan kreatifitas yang sangat tinggi dari sutradara dan krunya. Bahkan menurut pandangan saya yang kebetulan pernah berkecimpung di dunia film cerita sebagai Script Writer atau Penulis Skenario, pembuatan film iklan, terutama iklan yang tematik, memerlukan daya kreatifitas yang lebih tinggi, mulai dari pre-production hingga post-production. Mengapa demikian? Karena sebuah film iklan bukan sekedar tontonan yang bertujuan menghibur, akan tetapi di dalamnya ada proses promosi, pencitraan atau image sebuah produk.

Proses terciptanya sebuah film iklan umumnya diawali dengan adanya keinginan dari client atau produsen produk tertentu untuk mengiklankan produknya di media televisi, client tersebut biasanya akan menggunakan jasa agency atau perusahaan agen iklan yang kemudian akan menghubungi PH (Production House) atau rumah produksi. PH inilah yang akan menjadi produser dan meminta seorang director atau sutradara untuk mengerjakan film iklan yang diinginkan oleh client tersebut.

Menurut Dimas Jay, untuk menghasilkan film iklan yang baik, kita harus merinci objectives atau tujuan-tujuan dari pembuatan film iklan tersebut. Dimulai dari pertanyaan What is this? Apa yang ingin diiklankan, kemudian apa temanya, apa masalahnya, bagaimana solusinya, ada dimana posisi kita saat ini, siapa yang menjadi target iklan produk kita, apa karakter brand atau merek produk yang ingin kita iklankan, dan kapan iklan itu akan dipublikasikan. Semuanya harus dijabarkan secara rinci.

Menurut Jay lagi, seorang sutradara harus mampu mengombinasikan antara style atau gaya, ide, dan teknik dalam pembuatan film iklan. Dia juga harus mampu memberikan value atau nilai pada iklan tersebut, mengeksplor tujuan-tujuan pembuatan iklan produk yang bersangkutan, membuat orang-orang percaya pada iklan tersebut, dan memberikan kesempatan kepada produk tersebut untuk tampil dan berkembang. Bahkan dalam pembuatan film iklan yang tematik, kita juga harus mampu membuat objective campaign yang diharapkan mampu mengangkat dan meningkatkan image atau citra sebuah produk, seperti misalnya dengan menampilkan ungkapan-ungkapan from zero to hero atau ordinary man who save the day, dan seterusnya.

Demikianlah sekilas proses pembuatan film iklan yang biasa kita saksikan di televisi. Bagi yang berminat membuat film iklan, bisa menggunakan tips dari Jay tersebut.

Senin, 08 Desember 2008

Hikmah Berqurban



Alhamdulillah kita bertemu lagi dengan Hari Raya Idul Adha yang mulia ini. Setiap amalan yang diperintahkan oleh Allah SWT kepada kita, dibalik itu pasti ada hikmah dan manfaat, baik bagi yang melaksanakan maupun bagi masyarakat di sekitarnya. Demikian pula dengan perintah untuk berqurban di Hari Raya Idul Adha.

Hikmah melaksanakan qurban, dapat ditinjau dalam dua dimensi yang berbeda, baik dimensi vertikal maupun dimensi horizontal. Ditinjau dari dimensi vertikal atau hubungan antara manusia dengan Penciptanya, hikmah dan manfaatnya selain mendapatkan pahala yang besar, menjadikan kita sebagai orang yang pandai bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan Allah yang secara langsung akan berdampak pada peningkatan taqwa kita kepada-Nya. Sedangkan dimensi horizontalnya adalah menimbulkan dan memelihara rasa solidaritas sosial dengan sesama umat muslim dan masyarakat di sekitar kita. Makna berbagi ini akan meningkatkan rasa persaudaraan dalam masyarakat.

Demikianlah, keikhlasan Nabiullah Ibrahim AS. untuk mengorbankan putranya Ismail AS demi baktinya kepada Sang Pencipta dan Pemilik Hidup, semestinya senantiasa kita teladani dan amalkan. Berqurban pada Hari Raya Idul Adha ini sesungguhnya hanyalah trigger atau pemicu bagi kita untuk meningkatkan ketaqwaan kita kepada Sang Pemilik alam semesta ini, Allah SWT dan menumbuhkan rasa solidaritas sosial kita kepada sesama kemudian diaplikasikan dalam prilaku hidup kita pada hari-hari berikutnya.

Harapan kita, semoga dengan momentum Hari Raya Idul Adha ini, kita bisa meraih rahmat dan berkah dari Allah sebagai bekal di akhirat kelak ketika kita kembali pada-Nya, Tuhan semesta alam. Insya Allah.